August 4, 2026
WhatsApp Image 2026-08-03 at 09.51.26

Sindya Bisono dari Tabula Psychology Center menyampaikan materi “Kerja Lancar, Tim Solid: Kunci Hubungan Kerja Sehat dan Profesional di Lingkungan Proyek” pada webinar APPEKNAS

Psikolog Tabula Psychology Center, Sindya Bisono, M.Psi., Psikolog, mengajak para pelaku industri konstruksi memahami bahwa kelancaran proyek tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh kualitas komunikasi, kesadaran diri, dan hubungan kerja di dalam tim.

Asosiasi Pengusaha Pelaksana Kontraktor dan Konstruksi Nasional (APPEKNAS) berkolaborasi dengan Tabula Psychology Center dalam menyelenggarakan webinar bertajuk “Kerja Lancar, Tim Solid: Kunci Hubungan Kerja Sehat dan Profesional di Lingkungan Proyek”.

Kegiatan ini menghadirkan Sindya Bisono, M.Psi., Psikolog, psikolog dari Tabula Psychology Center, sebagai narasumber. Webinar dibuka oleh Ketua Umum APPEKNAS, Dr. Ir. Fandy Iood, S.T., M.PWK., IPM.

Dalam sambutannya, Fandy Iood menekankan bahwa keberhasilan sebuah proyek tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh kualitas hubungan kerja di dalam tim. Komunikasi yang sehat, sikap saling menghargai, kemampuan mengelola perbedaan, serta profesionalisme dalam berinteraksi menjadi faktor penting untuk menjaga koordinasi, kekompakan, dan kelancaran pekerjaan di lingkungan proyek.

Melalui kegiatan tersebut, APPEKNAS dan Tabula Psychology Center mengangkat salah satu aspek yang sering luput dalam pembahasan industri konstruksi, yaitu faktor psikologis di balik kerja sama tim.

Sebuah proyek dapat memiliki perencanaan yang matang, sumber daya yang memadai, dan tenaga profesional yang kompeten. Namun, pelaksanaannya tetap dapat terganggu apabila komunikasi di dalam tim tidak berjalan baik, konflik dibiarkan berlarut, atau anggota tim tidak memahami cara kerja satu sama lain.

Hubungan Kerja Menjadi Bagian Penting dari Kelancaran Proyek

Lingkungan proyek memiliki karakteristik kerja yang khas. Target waktu, perubahan kondisi lapangan, koordinasi lintas profesi, tuntutan keselamatan, dan kebutuhan mengambil keputusan secara cepat menjadi bagian dari keseharian para pelaku konstruksi.

Dalam situasi tersebut, ketegangan dan perbedaan pendapat sangat mungkin muncul. Perbedaan tidak selalu menandakan bahwa sebuah tim bermasalah. Dalam banyak situasi, konflik merupakan konsekuensi alami ketika beberapa orang dengan pengalaman, tanggung jawab, kepentingan, dan gaya komunikasi berbeda harus bekerja menuju tujuan yang sama.

Masalah biasanya muncul bukan karena adanya perbedaan, tetapi karena perbedaan tersebut tidak dikelola secara sehat.

Konflik yang tidak dibicarakan dapat berkembang menjadi kesalahpahaman, saling menyalahkan, komunikasi pasif-agresif, atau penurunan kepercayaan antaranggota tim. Dampaknya dapat terasa pada koordinasi pekerjaan, kecepatan penyelesaian masalah, dan suasana kerja sehari-hari.

Karena itu, hubungan kerja yang sehat bukan sekadar persoalan kenyamanan. Hubungan kerja juga merupakan bagian dari efektivitas pelaksanaan proyek.

Sindya Bisono Tekankan Pentingnya Mengenali Gaya Komunikasi

Dalam pemaparannya, Sindya Bisono menjelaskan bahwa setiap individu dapat memiliki kecenderungan gaya komunikasi yang berbeda. Ada orang yang terbiasa menyampaikan sesuatu secara langsung dan cepat, ada yang cenderung dominan, ada yang menghindari konflik, dan ada pula yang lebih pasif dalam menyampaikan kebutuhan.

Gaya komunikasi yang berbeda pada dasarnya tidak selalu buruk. Setiap gaya dapat memiliki kekuatan dan keterbatasan, tergantung pada situasi serta cara penyampaiannya.

Komunikasi langsung dapat membantu tim bergerak cepat, terutama ketika kondisi lapangan membutuhkan keputusan segera. Namun, apabila tidak disertai kepekaan terhadap lawan bicara, cara tersebut dapat terdengar kasar atau merendahkan.

Sikap dominan juga dapat membantu mengarahkan tim ketika keputusan perlu diambil. Akan tetapi, dominasi yang berlebihan dapat membuat orang lain merasa tidak didengarkan.

Di sisi lain, kebiasaan menghindari konflik mungkin menciptakan ketenangan sementara, tetapi persoalan yang tidak dibahas dapat menumpuk. Sikap pasif juga dapat menyebabkan kebutuhan, keberatan, atau informasi penting tidak tersampaikan kepada tim.

Pemahaman mengenai gaya komunikasi membantu seseorang melihat bahwa respons rekan kerja tidak selalu didasari niat buruk. Terkadang, persoalan terjadi karena perbedaan cara menyampaikan pesan dan cara memahami informasi.

Sebelum Memperbaiki Tim, Kenali Diri Sendiri

Salah satu topik utama yang dibahas dalam webinar adalah self-awareness atau kesadaran diri.

Sindya Bisono mengajak peserta untuk tidak hanya menilai perilaku orang lain, tetapi juga mengenali cara dirinya berkomunikasi, mengelola emosi, mengambil keputusan, dan merespons tekanan.

Kesadaran diri mencakup kemampuan mengenali kebiasaan, emosi, pemicu reaksi, pola komunikasi, serta dampak perilaku pribadi terhadap orang lain.

Dalam lingkungan proyek, seseorang mungkin merasa sudah berbicara secara jelas, sementara anggota tim menangkap pesannya sebagai bentuk kemarahan. Seorang atasan mungkin bermaksud mempercepat pekerjaan, tetapi cara menyampaikan instruksi justru membuat anggota tim takut bertanya. Sebaliknya, anggota tim yang terus diam dapat dianggap setuju, padahal sebenarnya belum memahami instruksi.

Situasi seperti ini menunjukkan bahwa niat dan dampak perilaku tidak selalu sama.

Kesadaran diri membantu seseorang berhenti sejenak sebelum bereaksi. Individu dapat bertanya kepada dirinya sendiri apakah cara menyampaikan pesan sudah sesuai, apakah emosi sedang memengaruhi keputusan, dan bagaimana responsnya mungkin diterima oleh orang lain.

Perubahan di dalam tim sering kali dimulai bukan dengan menuntut orang lain berubah, tetapi dengan memahami kontribusi diri sendiri terhadap dinamika yang sedang terjadi.

Konflik Tidak Selalu Harus Dihindari

Webinar tersebut juga mengajak peserta melihat konflik secara lebih netral.

Dalam sebuah tim, konflik dapat menjadi tanda bahwa terdapat perbedaan informasi, kebutuhan, sudut pandang, atau prioritas yang perlu dibicarakan. Konflik bahkan dapat menghasilkan keputusan yang lebih baik apabila setiap pihak mampu menyampaikan pendapat secara terbuka dan tetap menghormati orang lain.

Sebaliknya, lingkungan kerja yang terlihat selalu tenang belum tentu sehat. Tidak adanya perdebatan dapat terjadi karena anggota tim merasa takut berbicara, tidak yakin pendapatnya akan didengar, atau memilih diam untuk menghindari konsekuensi.

Karena itu, tujuan sebuah tim bukan menghilangkan seluruh konflik. Tujuannya adalah membangun kemampuan untuk mengelola konflik secara profesional.

Pengelolaan konflik dapat dimulai dengan memisahkan persoalan dari pribadi. Tim perlu membahas apa yang terjadi, apa dampaknya terhadap pekerjaan, serta langkah apa yang dapat dilakukan bersama, tanpa menyerang karakter seseorang.

Pemilihan waktu dan media komunikasi juga penting. Persoalan yang sensitif sebaiknya tidak selalu dibahas melalui pesan singkat yang mudah disalahartikan. Dalam situasi tertentu, percakapan langsung dapat memberikan ruang yang lebih baik untuk menjelaskan konteks dan memahami sudut pandang masing-masing.

Unsur Psikologi dalam Dunia Konstruksi

Kolaborasi antara APPEKNAS dan Tabula Psychology Center menunjukkan bahwa psikologi memiliki peran yang relevan dalam industri konstruksi.

Dunia konstruksi tidak hanya melibatkan alat, material, rancangan, prosedur, dan teknologi. Setiap proyek dijalankan oleh manusia yang harus berkomunikasi, bekerja sama, memimpin, menerima instruksi, mengelola tekanan, dan mengambil keputusan.

Kemampuan teknis tetap menjadi fondasi penting. Namun, kemampuan teknis perlu didukung oleh keterampilan psikologis agar dapat diterapkan secara efektif dalam kerja tim.

Kondisi psikologis seseorang dapat memengaruhi konsentrasi, ketelitian, pengendalian emosi, kemampuan memahami instruksi, serta cara merespons masalah. Dalam pekerjaan dengan tingkat risiko tinggi, kesalahan komunikasi atau keputusan yang diambil ketika emosi tidak terkendali dapat membawa dampak yang luas.

Karena itu, perhatian terhadap aspek psikologis bukan tambahan yang berdiri terpisah dari pekerjaan. Unsur tersebut berkaitan dengan produktivitas, kepemimpinan, koordinasi, keselamatan, dan kualitas hubungan profesional.

Komunikasi yang Sehat Bukan Berarti Selalu Sepakat

Hubungan kerja yang sehat tidak berarti semua anggota tim harus memiliki pendapat yang sama. Tim yang sehat tetap dapat mengalami perbedaan, memberikan kritik, serta mendiskusikan kesalahan.

Perbedaannya terletak pada cara proses tersebut dilakukan.

Komunikasi yang sehat memberi ruang bagi orang untuk menyampaikan informasi, bertanya ketika belum memahami instruksi, mengakui kesalahan, dan memberikan masukan tanpa takut dipermalukan.

Atasan memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan tersebut. Cara seorang pemimpin merespons pertanyaan dan kesalahan akan memengaruhi keberanian anggota tim untuk berbicara.

Apabila setiap pertanyaan dianggap sebagai tanda ketidakmampuan, anggota tim mungkin memilih diam. Apabila kesalahan selalu dibalas dengan mempermalukan seseorang, masalah dapat disembunyikan hingga menjadi lebih besar.

Sebaliknya, sikap terbuka tidak berarti mengabaikan tanggung jawab. Tim tetap membutuhkan standar, evaluasi, dan konsekuensi yang jelas. Namun, seluruh proses tersebut dapat dilakukan secara tegas tanpa merendahkan martabat seseorang.

Kolaborasi Multidisiplin untuk Industri Konstruksi

Industri konstruksi melibatkan berbagai latar belakang profesi, mulai dari kontraktor, konsultan, tenaga teknis, pengawas, pekerja lapangan, pemasok, hingga pemilik proyek. Kompleksitas tersebut membuat pendekatan multidisiplin semakin dibutuhkan.

Persoalan teknis perlu dijawab melalui keahlian teknis. Persoalan hukum membutuhkan perspektif hukum. Persoalan keselamatan membutuhkan keahlian keselamatan kerja. Sementara itu, persoalan mengenai perilaku, komunikasi, kepemimpinan, stres kerja, dan dinamika tim membutuhkan pemahaman psikologi.

Kolaborasi antara organisasi profesi konstruksi dan penyedia layanan psikologi memungkinkan tantangan di lingkungan proyek dipahami secara lebih utuh.

Melalui kontribusi Sindya Bisono dan Tabula Psychology Center, pembahasan mengenai hubungan kerja tidak berhenti pada anjuran untuk menjaga kekompakan. Peserta diajak memahami proses psikologis yang memengaruhi cara seseorang berkomunikasi, bereaksi terhadap tekanan, menghadapi konflik, serta bekerja bersama orang dengan karakter berbeda.

Pendekatan tersebut penting karena tim yang solid tidak terbentuk hanya melalui slogan atau kegiatan kebersamaan. Kekompakan dibangun melalui kebiasaan berkomunikasi dengan jelas, keberanian membahas masalah, kemampuan mengelola emosi, dan kesediaan mengevaluasi diri.

Membangun Proyek Sekaligus Membangun Manusia

Webinar ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan proyek tidak hanya terlihat dari bangunan yang selesai tepat waktu. Keberhasilan juga tercermin dari proses kerja yang profesional, komunikasi yang bertanggung jawab, dan hubungan yang tetap sehat di tengah tekanan.

Kolaborasi APPEKNAS dan Tabula Psychology Center memperluas pembahasan mengenai pengembangan industri konstruksi dengan menempatkan manusia sebagai bagian penting dari sistem kerja.

Ketika aspek teknis dan psikologis diperhatikan secara seimbang, organisasi memiliki peluang lebih besar untuk membangun tim yang mampu bekerja secara efektif sekaligus saling menghargai.

Pada akhirnya, konstruksi bukan hanya kegiatan membangun infrastruktur. Di dalam setiap proyek, terdapat proses membangun kepercayaan, kepemimpinan, komunikasi, dan kualitas manusia yang menjalankannya.

Sindya Bisono dari Tabula Psychology Center menyampaikan materi “Kerja Lancar, Tim Solid: Kunci Hubungan Kerja Sehat dan Profesional di Lingkungan Proyek” pada webinar APPEKNAS
Psikolog Tabula Psychology Center, Sindya Bisono, M.Psi., Psikolog, membahas berbagai gaya komunikasi yang dapat memengaruhi hubungan kerja di lingkungan proyek.
Materi mengenai kesadaran diri atau self-awareness menjadi salah satu pembahasan dalam webinar APPEKNAS bersama Tabula Psychology Center.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *