August 17, 2026
WhatsApp Image 2026-08-15 at 15.05.01

Jakarta, 14 Agustus 2026 — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong penguatan sinergi dengan Asosiasi Pengusaha Pelaksana Kontraktor dan Konstruksi Nasional (APPEKNAS) dalam menghadapi tantangan dan peluang industri konstruksi nasional. Hal tersebut disampaikan dalam pembukaan Musyawarah Nasional (MUNAS) Ke-IV APPEKNAS Tahun 2026 yang digelar di Hotel ShanKee Sudirman, Jakarta, Jumat (14/8).

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Keanggotaan, Widiyanto Saputro, hadir mewakili Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie yang berhalangan hadir karena agenda lain. Ia menyampaikan apresiasi Kadin Indonesia atas terselenggaranya MUNAS Ke-IV APPEKNAS sebagai forum strategis untuk menentukan arah organisasi sekaligus merumuskan kontribusi dunia usaha terhadap kemajuan industri konstruksi nasional.

MUNAS Ke-IV APPEKNAS mengusung tema “Transformasi Badan Usaha Kontraktor yang Adaptif, Profesional, dan Berintegritas sebagai Pilar Utama Kemajuan Industri Konstruksi Indonesia”. Menurut Kadin Indonesia, tema tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dan kebutuhan dunia usaha, mengingat sektor konstruksi memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional.

Berdasarkan data yang disampaikan dalam sambutan, sektor konstruksi menyumbang 9,83 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada 2025 dan menjadi sektor ekonomi terbesar keempat. Sektor ini juga menyerap lebih dari 8,7 juta tenaga kerja atau sekitar 6 persen dari total angkatan kerja Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya kontribusi industri konstruksi terhadap aktivitas ekonomi dan pembangunan nasional.

Pada 2026, anggaran Kementerian Pekerjaan Umum disebut mencapai Rp118,5 triliun untuk mendorong pembangunan infrastruktur berkualitas. Pemerintah juga telah mengumumkan paket kebijakan ekonomi dengan total outlook sekitar Rp16,23 triliun yang diarahkan untuk sektor konstruksi dan properti nasional. Kadin Indonesia menilai kondisi tersebut menjadi sinyal positif sekaligus peluang yang perlu dimanfaatkan oleh pelaku usaha jasa konstruksi.

Dalam sambutannya, Widiyanto juga memaparkan hasil Strategic Response Meeting (SRM) Kadin Indonesia yang telah dilaksanakan sejak April 2026. Forum tersebut menjadi wadah internal lintas sektor untuk menghimpun masukan dari dunia usaha dan merumuskannya menjadi usulan kebijakan kepada pemerintah. Hingga saat ini, SRM telah berlangsung sekitar 10 sesi yang melibatkan delapan Wakil Ketua Umum Koordinator dan empat Kepala Badan, dengan total 326 usulan kebijakan lintas sektor.

Sejumlah isu yang menjadi perhatian dalam SRM dan dinilai relevan dengan kondisi anggota APPEKNAS antara lain persoalan likuiditas kontraktor, skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), serta percepatan regulasi di sektor perumahan.

Dalam persoalan likuiditas, SRM mencatat tekanan margin kontraktor hingga defisit 5–12 persen serta kenaikan harga solar industri dan aspal yang sempat mencapai 20–30 persen. Kondisi tersebut mendorong usulan penerapan klausul penyesuaian harga atau price adjustment dalam kontrak, percepatan pencairan termin proyek pemerintah, serta skema restrukturisasi kredit dan penjaminan proyek bagi kontraktor terdampak.

Sementara pada sektor KPBU, porsi infrastruktur yang dibiayai melalui skema tersebut disebut baru sekitar 10 persen. Di sisi lain, target RPJMN 2025–2029 mencapai Rp544,48 triliun dengan funding gap sebesar Rp753 triliun. Untuk itu, Kadin mendorong pembentukan tim kerja KPBU serta peninjauan kembali regulasi agar skema pembiayaan tersebut semakin menarik bagi investor dan kontraktor nasional.

Isu perumahan juga menjadi perhatian, termasuk percepatan RUU Perumahan atau Omnibus Law PKP, penetapan zona khusus rumah subsidi, serta program pemutihan proyek perumahan eksisting yang masih menghadapi persoalan tumpang tindih regulasi perizinan.

Kadin Indonesia menilai berbagai isu tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan agenda MUNAS Ke-IV APPEKNAS, khususnya dalam memperkuat kepastian usaha, meningkatkan daya saing kontraktor, serta mendorong kebijakan konstruksi yang lebih responsif terhadap kondisi di lapangan. Kadin juga berharap APPEKNAS dapat terus memberikan masukan berbasis data sehingga proses advokasi kepada pemerintah semakin kuat.

Selain itu, program pembangunan perumahan nasional turut menjadi peluang bagi pelaku usaha konstruksi. Dalam sambutan tersebut disampaikan bahwa hingga pertengahan 2026, Program 3 Juta Rumah telah merealisasikan lebih dari 324 ribu unit rumah secara nasional dengan dukungan anggaran APBN 2026 sebesar Rp58 triliun. Penyaluran Kredit Program Perumahan hingga akhir Juli 2026 juga disebut mencapai Rp22,11 triliun atau 57,81 persen dari target kepada hampir 100 ribu debitur.

Di tengah peluang tersebut, Kadin juga menyoroti tantangan efisiensi investasi nasional. Funding gap KPBU sebesar Rp753 triliun disebut menjadi salah satu gambaran persoalan yang perlu mendapat perhatian bersama. Kadin menilai tantangan tersebut harus dijawab melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan seluruh ekosistem industri konstruksi, termasuk melalui perbaikan skema pembiayaan.

Sebagai bagian dari komitmennya terhadap ekosistem konstruksi nasional, Kadin Indonesia menegaskan tiga agenda utama, yakni mengawal percepatan pembayaran termin proyek pemerintah dan skema restrukturisasi kredit bagi kontraktor, mendorong penerapan klausul price adjustment serta kejelasan regulasi force majeure, dan mendorong percepatan reformasi skema KPBU serta pembiayaan non-APBN untuk mempercepat penutupan funding gap infrastruktur.

Kadin Indonesia juga memandang APPEKNAS sebagai mitra strategis dalam memperkuat ekosistem jasa konstruksi nasional. Sinergi kedua organisasi diharapkan dapat terus diperkuat, termasuk melalui penjajakan keanggotaan APPEKNAS sebagai Anggota Luar Biasa (ALB) Kadin Indonesia. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas ruang penyampaian aspirasi para kontraktor nasional dalam proses pengambilan kebijakan ekonomi.

MUNAS Ke-IV APPEKNAS diharapkan menghasilkan kepemimpinan dan arah organisasi yang semakin kuat, sekaligus melahirkan Blueprint APPEKNAS 2031 yang mampu menjawab tantangan transformasi teknologi, regulasi, dan persaingan global. Kadin Indonesia menegaskan kesiapan untuk terus bergandengan tangan bersama APPEKNAS dalam mewujudkan industri konstruksi nasional yang adaptif, profesional, dan berintegritas menuju Indonesia Emas 2045.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *