July 22, 2026
WhatsApp Image 2026-07-22 at 03.50.02

Psikolog Tabula Gracia Hanna Bahas Mental Tangguh dalam Menghadapi Tekanan Kerja di Dunia Konstruksi

Kolaborasi APPEKNAS dan Tabula Psychology Center menghadirkan perspektif psikologi mengenai ketangguhan mental, pengelolaan tekanan kerja, dan kemampuan beradaptasi bagi para pelaku industri konstruksi.

BATAM, 21 Juli 2026 – Asosiasi Pengusaha Pelaksana Kontraktor dan Konstruksi Nasional (APPEKNAS) kembali berkolaborasi dengan Tabula Psychology Center melalui webinar nasional bertajuk “Bangun Mental, Bangun Proyek: Strategi Menghadapi Tekanan Kerja dengan Tangguh.”

Webinar ini menghadirkan Gracia Hanna, M.Psi., Psikolog, psikolog dari Tabula Psychology Center, sebagai narasumber. Kegiatan dibuka oleh Ketua Umum APPEKNAS, Dr. Ir. Fandy Iood, S.T., M.PWK.

Dalam sambutannya, Fandy Iood menekankan bahwa keberhasilan dalam membangun proyek dan mengembangkan usaha tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis. Kesiapan mental, kemampuan beradaptasi, dan ketangguhan menghadapi tekanan juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan pekerjaan.

“Ketua Umum APPEKNAS, Dr. Ir. Fandy Iood, S.T., M.PWK., menyampaikan sambutan dalam webinar nasional kolaborasi APPEKNAS dan Tabula Psychology Center bertema “Bangun Mental, Bangun Proyek: Strategi Menghadapi Tekanan Kerja dengan Tangguh” pada 21 Juli 2026.”

Pandangan tersebut relevan dengan karakteristik dunia konstruksi yang bergerak dinamis. Perubahan kondisi lapangan, tuntutan penyelesaian proyek, koordinasi dengan banyak pihak, risiko keselamatan, serta tanggung jawab terhadap mutu dan biaya dapat menimbulkan tekanan bagi pekerja maupun pemimpin proyek.

Karena itu, pembahasan mengenai psikologi kerja tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun industri konstruksi yang profesional dan berkelanjutan.

“Gracia Hanna, M.Psi., Psikolog dari Tabula Psychology Center, menjelaskan perbedaan ketangguhan mental yang sehat dengan kebiasaan memendam tekanan dalam webinar APPEKNAS.”

Tekanan Kerja Merupakan Bagian dari Dinamika Proyek
Setiap pekerjaan memiliki tekanan. Namun, lingkungan konstruksi memiliki tantangan tersendiri karena melibatkan target, risiko, sumber daya, dan koordinasi lintas profesi dalam waktu yang sering kali terbatas.

Seorang pelaku konstruksi dapat menghadapi perubahan desain, keterlambatan material, tuntutan klien, kendala cuaca, persoalan tenaga kerja, hingga keputusan yang perlu diambil dengan cepat. Kondisi tersebut membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga kesiapan psikologis.

Tekanan pada dasarnya tidak selalu buruk. Dalam kadar yang dapat dikelola, tekanan dapat membantu seseorang lebih waspada, fokus, dan terdorong menyelesaikan tugas. Persoalan muncul ketika tuntutan terus meningkat tanpa diimbangi waktu pemulihan, dukungan, atau strategi menghadapi masalah yang memadai.

Tekanan yang dibiarkan menumpuk dapat memengaruhi cara seseorang berkomunikasi, mengambil keputusan, mengendalikan emosi, dan berinteraksi dengan anggota tim.

Dalam pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan koordinasi tinggi, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga dapat memengaruhi keseluruhan proses kerja.

Gracia Hanna: Mental Tangguh Bukan Berarti Tidak Boleh Lelah
Dalam pemaparannya, Gracia Hanna mengajak peserta memahami kembali makna mental toughness atau ketangguhan mental.

Mental tangguh sering kali disalahartikan sebagai keharusan untuk selalu kuat, tidak boleh sedih, tidak boleh lelah, dan tidak boleh meminta bantuan. Ada pula anggapan bahwa orang yang tangguh harus mampu menyimpan seluruh kesulitannya sendirian.

Padahal, ketangguhan mental bukan kemampuan untuk menolak atau memendam emosi.

Seseorang yang tangguh tetap dapat merasa lelah, kecewa, cemas, dan tertekan. Perbedaannya terletak pada kemampuan mengenali kondisi tersebut, mengelola respons, mencari dukungan yang tepat, serta tetap menentukan langkah yang sesuai.

Mental tangguh juga bukan tentang memaksakan diri terus bekerja tanpa batas. Istirahat, meminta bantuan, berdiskusi dengan rekan kerja, dan mengakui bahwa suatu situasi terasa berat justru dapat menjadi bagian dari respons yang sehat.

Dalam konteks pekerjaan, ketangguhan terlihat ketika seseorang mampu berpikir lebih jernih saat masalah datang, mengelola emosi, menyesuaikan diri dengan perubahan, berfokus pada solusi, dan bangkit kembali setelah mengalami kegagalan.

Ketangguhan Mental Tidak Sama dengan Memendam Masalah
Salah satu kesalahpahaman yang kerap muncul di lingkungan kerja adalah menganggap diam sebagai tanda kekuatan.

Seseorang mungkin memilih tidak menyampaikan kesulitan karena khawatir dianggap tidak kompeten. Ada pula pekerja yang terus menerima beban tambahan meskipun kapasitasnya sudah penuh karena takut mengecewakan atasan atau tim.

Dalam jangka pendek, sikap tersebut mungkin terlihat sebagai bentuk komitmen. Namun, ketika berlangsung terus-menerus, masalah dapat muncul dalam bentuk kelelahan, emosi yang mudah meledak, sulit berkonsentrasi, menurunnya motivasi, atau konflik dengan rekan kerja.

Ketangguhan yang sehat tidak mengharuskan seseorang menanggung seluruh tekanan sendirian. Justru, individu yang memahami batas dirinya dapat mengambil tindakan sebelum kondisi memburuk.

Di lingkungan proyek, tindakan tersebut dapat berupa mengklarifikasi pembagian kerja, menyampaikan kendala lebih awal, meminta prioritas yang lebih jelas, atau mencari bantuan saat menghadapi persoalan yang tidak dapat diselesaikan sendiri.

Keterbukaan bukan berarti menghindari tanggung jawab. Keterbukaan membantu masalah terlihat dan ditangani sebelum berkembang menjadi risiko yang lebih besar.

Kemampuan Beradaptasi Menjadi Bagian Penting dalam Dunia Konstruksi
Tidak semua situasi di lapangan dapat berjalan sesuai rencana. Dalam proyek konstruksi, perubahan merupakan bagian dari pekerjaan.

Ketangguhan mental membantu individu menerima bahwa tidak semua hal berada dalam kendalinya. Energi kemudian dapat diarahkan pada hal-hal yang masih dapat dilakukan, seperti memperbarui rencana, mengatur prioritas, memperkuat koordinasi, atau mencari alternatif penyelesaian.

Kemampuan beradaptasi bukan berarti pasrah terhadap keadaan. Adaptasi merupakan kemampuan menyesuaikan pendekatan tanpa kehilangan tujuan utama.

Seseorang yang terlalu terpaku pada satu cara dapat lebih mudah frustrasi ketika situasi berubah. Sebaliknya, individu yang fleksibel dapat menilai kembali kondisi dan menentukan respons yang lebih sesuai.

Dalam dunia konstruksi, kemampuan ini penting karena keputusan sering kali perlu mempertimbangkan aspek teknis, waktu, keselamatan, sumber daya, dan komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Pengelolaan Emosi Memengaruhi Kualitas Keputusan
Tekanan kerja dapat memunculkan reaksi emosional yang kuat. Rasa panik, marah, kecewa, atau takut merupakan respons manusiawi ketika seseorang menghadapi ancaman, ketidakpastian, atau tuntutan yang tinggi.

Namun, keputusan yang diambil ketika emosi sedang memuncak berisiko menjadi terlalu impulsif. Seseorang dapat berbicara dengan nada yang merendahkan, menyalahkan anggota tim, mengabaikan informasi penting, atau mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan dampak yang lebih luas.

Mengelola emosi tidak berarti menghilangkan emosi. Pengelolaan emosi berarti memberi ruang untuk mengenali apa yang dirasakan sebelum menentukan tindakan.

Langkah sederhana seperti mengambil jeda, mengatur napas, memeriksa kembali informasi, atau meminta waktu sebelum memberikan keputusan dapat membantu seseorang merespons dengan lebih terarah.

Kemampuan tersebut penting bagi pekerja maupun pemimpin proyek. Cara seorang pemimpin merespons masalah akan memengaruhi suasana psikologis seluruh tim.

Ketika pemimpin mampu tetap tenang, mendengarkan informasi, dan berfokus pada solusi, anggota tim akan lebih mudah menyampaikan masalah secara terbuka. Sebaliknya, apabila setiap kesalahan langsung direspons dengan kemarahan atau mempermalukan orang lain, pekerja dapat memilih diam dan menyembunyikan persoalan.

Pentingnya Unsur Psikologi dalam Industri Konstruksi
Kolaborasi APPEKNAS dengan Tabula Psychology Center menunjukkan bahwa pengembangan industri konstruksi memerlukan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis.

Setiap proyek dikerjakan oleh manusia. Di dalamnya terdapat proses berpikir, emosi, komunikasi, kepemimpinan, kerja sama, dan pengambilan keputusan.

Kondisi psikologis memengaruhi bagaimana seseorang memahami instruksi, mengelola konflik, merespons perubahan, dan mempertahankan konsentrasi. Oleh karena itu, perhatian terhadap psikologi kerja juga berkaitan dengan produktivitas, keselamatan, kualitas koordinasi, dan keberlangsungan organisasi.

Pengetahuan teknis membantu seseorang memahami apa yang harus dikerjakan. Sementara itu, keterampilan psikologis membantu seseorang tetap mampu menjalankan pengetahuan tersebut ketika berada di bawah tekanan.

Keduanya bukan dua hal yang saling menggantikan. Kompetensi teknis dan kesiapan psikologis perlu berjalan beriringan.

Tim yang Tangguh Dibangun melalui Dukungan, Bukan Tekanan Semata
Ketangguhan mental tidak hanya menjadi tanggung jawab individu. Lingkungan kerja turut menentukan apakah seseorang memiliki ruang untuk menghadapi tekanan secara sehat.

Organisasi dapat memiliki pekerja yang kompeten, tetapi kemampuan mereka sulit berkembang apabila budaya kerja dipenuhi ketakutan, komunikasi yang tertutup, dan tuntutan tanpa dukungan.

Tim yang tangguh bukan tim yang tidak pernah mengalami kesulitan. Tim yang tangguh adalah tim yang mampu membicarakan masalah, belajar dari kesalahan, dan saling membantu menemukan solusi.

Dukungan tersebut dapat dimulai melalui pembagian peran yang jelas, komunikasi yang terbuka, evaluasi yang tidak merendahkan, serta keberanian untuk menyampaikan risiko sebelum masalah membesar.

Pemimpin juga perlu memahami bahwa setiap anggota tim dapat menunjukkan respons berbeda ketika berada di bawah tekanan. Ada yang menjadi lebih diam, lebih mudah marah, kehilangan fokus, atau justru bekerja berlebihan.

Dengan memahami tanda-tanda tersebut, pemimpin dapat memilih pendekatan yang lebih tepat dan tetap menjaga standar profesional.

Kolaborasi Multidisiplin untuk Membangun Industri yang Lebih Kuat
Kompleksitas dunia konstruksi membuat kolaborasi multidisiplin semakin penting. Persoalan teknis membutuhkan keahlian teknik. Risiko keselamatan membutuhkan pendekatan keselamatan dan kesehatan kerja. Pengelolaan proyek memerlukan kemampuan perencanaan dan koordinasi. Sementara itu, tekanan kerja, ketangguhan mental, dinamika tim, dan kepemimpinan membutuhkan pemahaman psikologi.

Melalui kontribusi Gracia Hanna, M.Psi., Psikolog, Tabula Psychology Center menghadirkan perspektif psikologi yang dapat digunakan untuk memahami manusia di balik setiap pekerjaan.

Kolaborasi bersama APPEKNAS mempertemukan pengetahuan mengenai dunia konstruksi dengan pemahaman mengenai perilaku dan kesejahteraan psikologis. Pendekatan ini membantu melihat proyek secara lebih menyeluruh, bukan hanya dari hasil akhirnya, tetapi juga dari kualitas proses dan kondisi orang-orang yang menjalankannya.

Industri yang kuat tidak hanya membutuhkan tenaga kerja yang terampil. Industri juga membutuhkan manusia yang mampu mengelola tekanan, beradaptasi, bekerja sama, dan mencari bantuan ketika diperlukan.

Membangun Mental, Membangun Proyek
Webinar ini menjadi pengingat bahwa pembangunan proyek dan pembangunan kualitas manusia merupakan proses yang saling berkaitan.

Proyek yang kompleks memerlukan pekerja dan pemimpin yang mampu berpikir jernih di tengah tekanan. Namun, kejernihan tersebut tidak lahir dari tuntutan untuk selalu terlihat kuat.

Ketangguhan dibangun melalui kesadaran diri, pengelolaan emosi, kemampuan beradaptasi, dukungan sosial, dan keberanian mengambil langkah yang sehat ketika menghadapi kesulitan.

“Webinar APPEKNAS bersama Tabula Psychology Center membahas ketangguhan mental sebagai kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, berkembang, dan menjaga kesejahteraan.”

Melalui webinar nasional ini, APPEKNAS dan Tabula Psychology Center mendorong pembahasan yang lebih luas mengenai pentingnya unsur psikologi dalam industri konstruksi.

Sebab, di balik setiap bangunan, infrastruktur, dan proyek yang diselesaikan, terdapat manusia yang juga perlu dijaga, dikembangkan, dan diperkuat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *