Kolaborasi antara APPEKNAS dan Tabula Psychology Center menghadirkan perspektif psikologi keluarga bagi para pelaku industri konstruksi, khususnya mengenai pentingnya keterlibatan ayah dalam tumbuh kembang anak.
Asosiasi Pengusaha Pelaksana Kontraktor dan Konstruksi Nasional (APPEKNAS) bekerja sama dengan Tabula Psychology Center menyelenggarakan webinar nasional bertajuk “Membangun Fondasi Keluarga yang Kuat: Peran Ayah di Dunia Konstruksi dalam Tumbuh Kembang Anak” pada Rabu, 10 Juni 2026.
Webinar ini mempertemukan dua bidang yang sekilas terlihat berbeda, yaitu industri konstruksi dan psikologi keluarga. Namun, keduanya memiliki satu kesamaan penting. Konstruksi membutuhkan fondasi yang kuat agar sebuah bangunan dapat berdiri dan bertahan, sementara keluarga membutuhkan hubungan yang sehat agar setiap anggotanya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Kegiatan dibuka oleh Ketua Umum APPEKNAS, Dr. Ir. Fandy Iood, S.T., M.PWK. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya keseimbangan antara tanggung jawab profesional dan kehidupan keluarga. Menurutnya, keberhasilan dalam dunia kerja perlu berjalan beriringan dengan keterlibatan dalam keluarga, terutama dalam mendukung terbentuknya generasi yang sehat, berkarakter, dan berkualitas.
Tantangan Peran Ayah di Dunia Konstruksi
Industri konstruksi dikenal memiliki ritme kerja yang dinamis. Pekerja dan pelaku usaha di bidang ini dapat menghadapi tenggat waktu proyek, mobilitas yang tinggi, tuntutan koordinasi, risiko keselamatan, serta tanggung jawab yang melibatkan banyak pihak.
Dalam kondisi tersebut, waktu bersama keluarga sering kali menjadi terbatas. Sebagian ayah juga harus bekerja di lokasi proyek yang jauh dari tempat tinggal atau menjalani jadwal yang berubah mengikuti kebutuhan pekerjaan.
Kesibukan tersebut bukan berarti seorang ayah tidak dapat berperan secara bermakna dalam kehidupan anak. Keterlibatan ayah tidak hanya diukur dari lamanya waktu berada di rumah, tetapi juga dari kualitas interaksi yang terbangun ketika bersama anak.
Topik inilah yang dibahas oleh Hanum Swandarini, M.Psi., Psikolog, psikolog dari Tabula Psychology Center. Dalam pemaparannya, Hanum mengajak peserta memahami bahwa kehadiran ayah tidak harus selalu diwujudkan melalui aktivitas besar. Perhatian sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan pengaruh penting bagi perkembangan anak.
Pesan utama yang disampaikan dalam webinar tersebut adalah:
“Anak tidak membutuhkan ayah yang sempurna. Mereka membutuhkan ayah yang berusaha hadir.”
Kehadiran yang dimaksud bukan sekadar berada secara fisik di rumah. Anak juga membutuhkan ayah yang bersedia mendengarkan, mengenali perasaannya, memberikan rasa aman, serta menunjukkan ketertarikan terhadap pengalaman sehari-hari anak.
Bagi ayah yang memiliki waktu terbatas, kebiasaan sederhana seperti berbicara dengan anak setelah pulang bekerja, menanyakan kegiatan sekolah, menemani makan, membacakan cerita, atau melakukan panggilan video ketika berada di luar kota dapat menjadi bentuk keterlibatan yang berarti.
Peran Ayah dalam Perkembangan Emosi dan Karakter Anak
Dari perspektif psikologi, hubungan anak dengan ayah dapat berkontribusi terhadap perkembangan emosional, sosial, dan pembentukan karakter. Anak belajar memahami dunia bukan hanya melalui nasihat, tetapi juga dengan mengamati perilaku orang dewasa di sekitarnya.
Cara ayah mengelola tekanan, menyelesaikan konflik, memperlakukan pasangan, berkomunikasi dengan orang lain, dan merespons kegagalan dapat menjadi contoh langsung bagi anak.
Ketika ayah mampu hadir dengan hangat sekaligus memberikan batasan yang jelas, anak memperoleh kesempatan untuk belajar mengenai rasa aman, tanggung jawab, disiplin, empati, dan keberanian menghadapi tantangan.
Keterlibatan ayah juga tidak berarti menggantikan peran ibu. Pengasuhan merupakan tanggung jawab bersama yang perlu dibangun melalui komunikasi dan kerja sama. Ketika ayah dan ibu memiliki kesepahaman mengenai kebutuhan anak, keluarga menjadi lingkungan yang lebih stabil untuk mendukung tumbuh kembangnya.
Webinar ini turut mengingatkan bahwa kebutuhan anak dapat berubah sesuai tahap perkembangannya. Anak usia dini mungkin membutuhkan lebih banyak permainan dan kedekatan fisik, sedangkan anak yang mulai beranjak remaja membutuhkan ruang untuk menyampaikan pendapat tanpa langsung dihakimi.
Karena itu, peran ayah tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan finansial. Ayah juga memiliki peran sebagai sumber dukungan emosional, teladan, pendamping, dan tempat anak merasa diterima.
Pentingnya Perspektif Psikologi dalam Industri Konstruksi
Kehadiran Tabula Psychology Center dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa psikologi memiliki relevansi yang luas, termasuk dalam dunia konstruksi.
Industri konstruksi tidak hanya berhubungan dengan material, teknologi, perencanaan, dan penyelesaian proyek. Di dalamnya terdapat manusia yang menghadapi tekanan kerja, mengambil keputusan, memimpin tim, berkomunikasi, mengelola risiko, serta menjalankan berbagai peran dalam kehidupan pribadi.
Kondisi psikologis pekerja dapat memengaruhi konsentrasi, komunikasi, pengambilan keputusan, hubungan antartim, dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan. Tekanan yang tidak dikelola dengan baik juga dapat terbawa ke lingkungan keluarga. Sebaliknya, permasalahan keluarga yang berkepanjangan dapat memengaruhi fokus dan kesejahteraan seseorang di tempat kerja.
Karena itu, pembahasan mengenai kesehatan mental, keseimbangan peran, hubungan keluarga, serta dukungan psikologis seharusnya tidak dipandang sebagai isu yang terpisah dari produktivitas dan profesionalisme.
Organisasi yang memberikan perhatian terhadap aspek psikologis turut membangun lingkungan kerja yang lebih manusiawi. Upaya tersebut dapat diwujudkan melalui edukasi kesehatan mental, penguatan keterampilan komunikasi, dukungan bagi pekerja yang menghadapi tekanan, pengembangan kepemimpinan, serta kebijakan kerja yang mempertimbangkan kehidupan keluarga.
Sinergi Multidisiplin untuk Membangun Manusia dan Keluarga
Kolaborasi APPEKNAS dan Tabula Psychology Center memperlihatkan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam menjawab tantangan masyarakat.
Permasalahan dalam dunia kerja tidak selalu dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan teknis. Demikian pula, persoalan keluarga tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari kondisi pekerjaan, lingkungan sosial, ekonomi, dan budaya.
Industri konstruksi memiliki pengetahuan mengenai pengelolaan proyek, kepemimpinan lapangan, keselamatan, dan pembangunan infrastruktur. Sementara itu, psikologi memberikan pemahaman mengenai perilaku manusia, kesehatan mental, hubungan keluarga, komunikasi, serta dinamika perkembangan anak.
Ketika kedua bidang ini dipertemukan, pembahasan yang dihasilkan menjadi lebih utuh. Pembangunan tidak hanya dipahami sebagai proses mendirikan infrastruktur, tetapi juga sebagai proses membangun manusia yang menjalankan dan menerima manfaat dari pembangunan tersebut.
Melalui webinar ini, APPEKNAS dan Tabula Psychology Center berharap kesadaran mengenai peran ayah dapat semakin berkembang di kalangan pelaku konstruksi dan masyarakat luas. Fondasi keluarga tidak dibangun dalam satu percakapan atau satu kegiatan besar, tetapi melalui interaksi sederhana yang dilakukan setiap hari.
Di tengah tuntutan pekerjaan, ayah tetap dapat mengambil peran melalui perhatian, komunikasi, konsistensi, dan kesediaan untuk terus belajar memahami kebutuhan anak.
Webinar tersebut menjadi pengingat bahwa profesionalisme dan keterlibatan dalam keluarga bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan bersama ketika seseorang memiliki kesadaran, dukungan, serta strategi yang sesuai dengan kondisi kehidupannya.
Rekaman kegiatan dapat disaksikan kembali melalui kanal YouTube resmi APPEKNAS DPN.