Webinar “Manusia di Balik Proyek” menghadirkan Dr. phil. Ratri Atmoko Benedictus, M.Psi., Psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya untuk membahas bagaimana faktor manusia, desain kerja, budaya keselamatan, dan ergonomi berperan dalam menciptakan lingkungan konstruksi yang lebih aman dan produktif.

BATAM, 19 Agustus 2026. APPEKNAS bersama Tabula Psychology Center menyelenggarakan webinar nasional bertajuk “Manusia di Balik Proyek: Memahami Human Factor dan Ergonomi untuk Kerja yang Aman dan Produktif di Dunia Konstruksi.”

Webinar menghadirkan Dr. phil. Ratri Atmoko Benedictus, M.Psi., Psikolog, akademisi dari Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, sebagai narasumber. Dalam materi yang dibawakan, Ratri mengajak peserta melihat keselamatan dan produktivitas konstruksi dari perspektif yang lebih luas. Sebuah proyek tidak hanya terdiri dari teknologi, alat, prosedur, dan target pekerjaan. Di balik seluruh sistem tersebut terdapat manusia yang menerima informasi, mengambil keputusan, berinteraksi dengan alat, bekerja dalam tim, dan merespons berbagai tuntutan lingkungan kerja.

Perspektif tersebut menjadi penting di industri konstruksi yang memiliki dinamika kerja tinggi dan melibatkan koordinasi banyak pihak. Pendekatan psikologi, human factor, serta ergonomi dapat melengkapi pendekatan teknis untuk membantu memahami mengapa suatu kesalahan terjadi dan bagaimana sistem kerja dapat dirancang agar lebih sesuai dengan kemampuan manusia.
Mengenal Manusia di Balik Sebuah Proyek
Dalam pembahasannya, Dr. Ratri menjelaskan bahwa konsep human factor tidak semata-mata berbicara mengenai kesalahan manusia atau human error. Human factor justru berupaya memahami hubungan antara manusia, tugas, teknologi, lingkungan, dan organisasi.
Tujuannya adalah memastikan bahwa sistem, proses, serta lingkungan kerja dirancang sesuai dengan kemampuan manusia sehingga keselamatan, kualitas, produktivitas, dan keandalan kerja dapat meningkat.
Cara pandang ini membawa implikasi penting bagi industri konstruksi.
Ketika terjadi kesalahan di lapangan, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya, “Siapa yang salah?” tetapi juga, “Apa yang membuat kesalahan tersebut mungkin terjadi?”
Apakah instruksi cukup jelas? Apakah pekerja menerima terlalu banyak informasi dalam waktu bersamaan? Apakah alat mudah digunakan? Apakah beban kerja sesuai dengan kemampuan individu? Apakah budaya organisasi memungkinkan pekerja melaporkan risiko? Apakah pekerjaan dirancang dengan mempertimbangkan keterbatasan fisik maupun kognitif manusia?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu organisasi bergerak dari pendekatan yang hanya mencari kesalahan individual menuju pendekatan yang melihat keseluruhan sistem kerja.
Human Factor Lebih Luas dari Sekadar Kondisi Fisik
Materi webinar menunjukkan bahwa human factor merupakan konsep multidimensional. Dr. Ratri memaparkan aspek fisik, biologis, psikologis, teknis, organisasional, dan sosial budaya sebagai bagian yang saling berinteraksi dalam menentukan perilaku dan performa seseorang di tempat kerja.
Pada aspek fisik dan biologis, misalnya, terdapat persoalan mengenai biomekanika, kemampuan tubuh menerima beban, posisi kerja, serta kemungkinan terjadinya trauma akibat aktivitas yang dilakukan berulang.
Pada aspek psikologis, perhatian diberikan pada bagaimana seseorang mempersepsikan informasi, mempertahankan perhatian, mengolah informasi, memecahkan masalah, mengambil keputusan, menghadapi beban mental, dan membangun situation awareness.
Sementara itu, faktor organisasional berkaitan dengan desain pekerjaan, kebijakan, pembagian tugas, kepemimpinan, serta sistem keselamatan yang diterapkan perusahaan.
Artinya, keselamatan kerja bukan hanya persoalan apakah seseorang menggunakan perlengkapan keselamatan dengan benar. Keselamatan juga dipengaruhi oleh bagaimana pekerjaan itu sendiri dirancang.
Ketika Informasi yang Sama Bisa Menghasilkan Respons yang Berbeda
Salah satu bagian penting dalam perspektif psikologi adalah bagaimana manusia menerima dan memproses informasi.
Dalam lingkungan proyek, pekerja terus berinteraksi dengan berbagai stimulus. Mereka melihat rambu, membaca instruksi, mendengar perintah, mengamati pergerakan alat berat, memperhatikan kondisi lingkungan, dan pada saat bersamaan harus menentukan respons yang tepat.
Materi Dr. Ratri menjelaskan bahwa proses tersebut melibatkan tahapan seperti perhatian, persepsi, interpretasi informasi, memori, pengambilan keputusan, hingga pemilihan tindakan.
Di sinilah psikologi memiliki relevansi langsung terhadap dunia konstruksi.
Informasi yang sebenarnya tersedia belum tentu otomatis dipahami dengan benar. Dalam kondisi lelah, terburu-buru, mengalami beban mental tinggi, atau menghadapi desain informasi yang membingungkan, kemampuan seseorang untuk mendeteksi dan menginterpretasikan situasi dapat berubah.
Karena itu, desain sistem keselamatan perlu mempertimbangkan bagaimana manusia benar-benar memproses informasi, bukan hanya berasumsi bahwa setiap instruksi akan selalu diterima dan dipahami sebagaimana yang dimaksud.
Ergonomi Bukan Hanya Soal Kursi dan Postur
Istilah ergonomi sering kali diasosiasikan dengan meja, kursi, atau posisi duduk. Dalam konteks pekerjaan konstruksi, cakupannya jauh lebih luas.
Pendekatan ergonomi membahas kesesuaian antara pekerjaan dengan kemampuan manusia, termasuk aspek fisik, kognitif, dan organisasional.
Dari sisi biomekanika, misalnya, cara seseorang mengangkat beban, posisi tubuh saat bekerja, besarnya gaya yang diterima tubuh, hingga lamanya paparan terhadap suatu aktivitas dapat berpengaruh terhadap risiko gangguan atau cedera. Materi webinar secara khusus membahas kapasitas otot, ligamen, tendon dan tulang, beban internal dan eksternal, serta perbedaan antara trauma akut dan trauma kumulatif.
Namun ergonomi tidak berhenti di sana.
Desain pekerjaan juga perlu mempertimbangkan teknologi yang digunakan, kondisi lingkungan, organisasi kerja, dan kapasitas personal. Ketika tuntutan sistem tidak sesuai dengan kapasitas manusia, dapat muncul tekanan biomekanis, fisiologis, maupun psikologis.
Dengan demikian, ergonomi pada akhirnya berbicara tentang bagaimana membuat pekerjaan sesuai dengan manusia, bukan sekadar meminta manusia terus menyesuaikan diri dengan pekerjaan.
Dari Human Error Menuju Perbaikan Sistem
Perspektif human factor juga mengajak organisasi untuk lebih hati-hati menggunakan istilah human error.
Kesalahan seseorang sering kali merupakan bagian terakhir yang terlihat dari serangkaian kondisi yang lebih panjang.
Di balik sebuah tindakan tidak aman dapat terdapat faktor yang tidak langsung terlihat, seperti desain sistem, norma kerja, pengetahuan, nilai, sikap, proses komunikasi, keputusan organisasi, maupun budaya keselamatan.
Karena itu, investigasi terhadap insiden menjadi lebih bermanfaat apabila tidak berhenti pada penentuan siapa yang melakukan kesalahan.
Organisasi perlu mencari faktor yang membuat suatu tindakan menjadi mungkin atau bahkan lebih mudah terjadi. Pendekatan tersebut membuka ruang untuk melakukan perbaikan terhadap prosedur, teknologi, desain pekerjaan, pelatihan, komunikasi, hingga kepemimpinan.
Bagi dunia konstruksi, cara berpikir ini sangat relevan karena satu proyek dapat melibatkan banyak profesi dan lapisan organisasi. Keputusan pada level manajemen dapat memengaruhi supervisor, pekerja, sistem kerja, dan akhirnya perilaku keselamatan di lapangan.
Budaya Keselamatan Tidak Dibangun oleh Pekerja Saja
Dalam webinar, Dr. Ratri juga membahas budaya keselamatan sebagai bagian dari human factor.
Budaya keselamatan terbentuk dari interaksi antara sistem manajemen, sikap dan tindakan pemimpin, supervisor, pekerja, persepsi terhadap risiko, serta praktik keselamatan sehari-hari. Materi yang disampaikan menunjukkan bahwa kepemimpinan dan sistem organisasi memiliki hubungan dengan bagaimana pekerja kemudian mempersepsikan dan menjalankan keselamatan.
Dengan kata lain, budaya keselamatan tidak cukup dibangun melalui poster, slogan, atau instruksi.
Ketika perusahaan ingin pekerjanya melaporkan bahaya, misalnya, organisasi perlu menciptakan kondisi yang membuat pekerja merasa aman untuk melapor. Ketika perusahaan ingin pekerjanya mematuhi prosedur, prosedur tersebut juga harus realistis untuk dilaksanakan dalam kondisi pekerjaan sebenarnya.
Konsistensi antara kebijakan, tindakan pemimpin, desain sistem, dan perilaku sehari-hari menjadi bagian penting dari kematangan budaya keselamatan.
Peran Psikologi dalam Industri Konstruksi
Kehadiran perspektif psikologi dalam pembahasan konstruksi menunjukkan pentingnya kolaborasi multidisiplin.
Keahlian teknik diperlukan untuk memastikan bangunan dan infrastruktur dirancang serta dilaksanakan dengan benar. Keahlian keselamatan kerja dibutuhkan untuk mengenali dan mengendalikan risiko. Sementara itu, psikologi membantu memahami bagaimana manusia berpikir, mempersepsikan risiko, mengambil keputusan, bekerja dalam kelompok, merespons aturan, serta berinteraksi dengan sistem dan teknologi.
Bidang-bidang tersebut tidak berdiri sendiri.
Dalam sebuah proyek, keputusan teknis selalu dijalankan oleh manusia. Sistem keselamatan juga bergantung pada bagaimana sistem tersebut dipahami dan digunakan. Teknologi yang baik tetap membutuhkan desain antarmuka dan prosedur yang mempertimbangkan cara manusia menerima serta mengolah informasi.
Di sinilah kolaborasi antara APPEKNAS, Tabula Psychology Center, serta akademisi Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya menjadi relevan. Dunia konstruksi memperoleh ruang untuk berdialog dengan disiplin psikologi mengenai persoalan keselamatan, produktivitas, desain pekerjaan, dan perilaku manusia yang sering kali saling berkaitan.
Mengenal Dr. phil. Ratri Atmoko Benedictus, M.Psi., Psikolog
Dr. phil. Ratri Atmoko Benedictus, M.Psi., Psikolog merupakan dosen di Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Dalam konteks webinar ini, bidang yang menjadi fokus pembahasannya berkaitan dengan Psychology of Occupational Health and Safety, atau psikologi kesehatan dan keselamatan kerja, serta Engineering Psychology.
Latar belakang tersebut membuat pembahasan human factor menjadi jembatan antara ilmu psikologi dengan persoalan yang sangat praktis di dunia kerja, mulai dari persepsi dan pengambilan keputusan hingga ergonomi, desain pekerjaan, keselamatan, kepemimpinan, dan budaya organisasi.
Materi webinar yang disampaikannya juga memperlihatkan bahwa pendekatan human factor tidak melihat manusia secara terpisah, tetapi sebagai bagian dari hubungan yang lebih besar antara individu, tugas, teknologi, organisasi, dan lingkungan.
Menuju Keselamatan yang Lebih Terintegrasi
Sebagai bagian penutup, materi webinar mengangkat pendekatan Vision Zero, yang mengintegrasikan keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan dalam upaya pencegahan di tempat kerja.
Pendekatan tersebut menekankan sejumlah prinsip, antara lain kepemimpinan, identifikasi bahaya, pengendalian risiko, pembangunan sistem kerja yang aman dan sehat, pengembangan kompetensi, serta investasi pada manusia melalui partisipasi.
Pesannya selaras dengan keseluruhan tema webinar.
Proyek yang aman tidak tercipta hanya karena pekerja diminta berhati-hati. Keselamatan merupakan hasil dari interaksi antara manusia, sistem, teknologi, kepemimpinan, budaya, dan desain pekerjaan.
Melalui webinar ini, APPEKNAS dan Tabula Psychology Center membuka ruang kolaborasi antara dunia konstruksi dan psikologi dengan menghadirkan perspektif akademik dari Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya.
Sebab, ketika berbicara mengenai pembangunan, perhatian tidak hanya perlu diberikan pada apa yang dibangun, tetapi juga pada manusia di balik proyek yang merencanakan, mengambil keputusan, bekerja, dan memastikan pembangunan tersebut dapat berlangsung dengan aman serta produktif.