Utrecht, 29 September 2025 – Suasana akademik yang kental langsung terasa oleh parah Delegasi yang hadir begitu kaki mereka menginjakkan kaki di kampus Utrecht University yang ikonik. Ketua Umum APPEKNAS Fandy Iood, merupakan salah satu delegasi yang hadir dalam kunjungan intensif selama seminggu di Belanda pun dimulai. Hari pertama, Senin (29/9), diisi dengan agenda utama: meninjau langsung model pendidikan kelas dunia dan menjalin relasi strategis yang potensial.

“Selamat datang kepada seluruh anggota delegasi di Utrecht University,” demikian sapaan hangat yang menandai dimulainya serangkaian acara pada hari pertama di Utrecht. Universitas yang didirikan pada 1636 ini bukan hanya sekadar bangunan tua, melainkan sebagai salah satu institusi riset terkemuka di Eropa. Dengan lebih dari 39.000 mahasiswa, 8.900 staf, dan anggaran riset sekitar €1,2 miliar, Utrecht University berdiri sebagai salah satu institusi riset terkemuka di Eropa.
Banyak Fakta-fakta yang sungguh mengesankan yaitu Utrecht University terdiri dari 59 program sarjana, 150 program magister (109 diantaranya dalam Bahasa Inggris), 8.300 publikasi per tahun, 600 disertasi, dan telah melahirkan 12 peraih Nobel. Jejak internasionalnya juga tak kalah kuat, dengan lebih dari 5.600 mahasiswa internasional dari 110 negara, dan sekitar 1.500 mahasiswa internasional baru setiap tahunnya.
Salah satu keunggulan utama yang menjadi sorotan Utrecht University adalah kemampuan dalam menciptakan lingkungan internasional yang integratif. Utrecht University juga menawarkan program magister terluas di Belanda yang menggunakan bahasa Inggris, Utrecht University selalu memastikan bahwa setiap mahasiswanya tidak hanya siap belajar, tetapi langsung mampu berkontribusi dalam percaturan global.
Komitmen Utrecht University terhadap kualitas pendidikan internasional juga dibuktikan melalui Kode Etik Mahasiswa Internasional, yang memastikan proses perekrutan dan pendampingan yang berintegritas dan berkelanjutan. Utrecht University memiliki Motto universitas yaitu, Sol Iustitiae Illustra Nos (“Semoga Matahari Keadilan Menerangi Kami”), ini merupakan penuntun dalam setiap langkah akademik dan riset mereka di Utrecht University.
Fandy Iood yang merupakan salah satu anggota delegasi yang mewakili APPEKNAS mendapatkan kehormatan untuk mengikuti serangkaian kuliah khusus langsung dari Prof. Dr. Henk Addink, Professor (Emeritus) Hukum Administrasi dan Tata Kelola yang Baik. Agenda yang dimulai pukul 09.00 dengan pengenalan mengenai Utrecht University dan profil risetnya, dilanjutkan dengan topik strategis “Kedaulatan dan Integrasi Ekonomi Regional di ASEAN” pada sesi berikutnya.

Setelah jeda istirahat, Prof. Henk yang mendalami hukum perbandingan dan sistem hukum Belanda memberikan kuliah lanjutan mengenai aspek umum hukum perbandingan dan sistem hukum Belanda, yang diikuti dengan sesi tanya jawab interaktif dengan para delegasi yang hadir. Dialog ini membuka wawasan baru bagi delegasi yang mengikuti kuliah mengenai best practices dalam tata kelola dan regulasi.

Agenda berikutnya dilanjutkan dengan kunjungan ke pusat kota Utrecht, para delegasi berkesempatan mengunjungi Academic Building, Domplein, Academic Garden, Katedral, Menara Dom, dan Janskerkhof. Perjalanan ini tidak hanya memperkaya wawasan akademik saja, tetapi juga memberikan perspektif budaya yang mendalam tentang bagaimana warisan sejarah dapat berpadu harmonis dengan perkembangan pendidikan modern saat ini.
Dalam pernyataannya usai kunjungan hari pertama, Fandy Iood menyampaikan apresiasi yang mendalam terhadap kunjungannya kali ini:
“Kunjungan hari ini bukanlah sekadar agenda seremonial, melainkan sebuah langkah pertama strategis dalam membangun jembatan kerja sama antara Indonesia dan Eropa. Apa yang kami lihat dan pelajari hari ini di Utrecht University mereka mempunyai komitmen pada tata kelola yang baik, lingkungan riset yang inklusif, hingga dedikasi pada keadilan melalui ilmu pengetahuan akan menjadi referensi penting bagi APPEKNAS dalam mendorong peningkatan kapasitas para pengusaha dan profesional di Indonesia. Kami berkomitmen untuk menindaklanjuti kunjungan ini dengan program-program nyata yang dapat memperkuat ekosistem di tanah air.”
Khusus pada untuk sektor konstruksi Indonesia, Fandy Iood menambahkan,
“Sebagai contoh penerapan nyata, prinsip-prinsip good governance dan regulasi yang kami dapat pelajari hari ini sangat relevan dengan pembenahan sektor konstruksi di Indonesia. Mulai dari perbaikan sistem pengadaan tender, hingga penerapan standar keberlanjutan dan juga keselamatan konstruksi yang lebih ketat, sehingga semua membutuhkan kerangka regulasi yang solid. Oleh sebab itu, kami bertekad untuk tidak hanya menindaklanjuti kunjungan ini dengan program-program nyata, tetapi juga mendorong dan mengadopsi praktik terbaik (best practices) dari Belanda untuk meningkatkan daya saing dan produktivitas sektor konstruksi Indonesia.”

Secara keseluruhan, dapat kita tarik kesimpulan bahwa kunjungan delegasi ini merupakan sebuah batu loncatan penting. Dengan demikian, sinergi dan pertukaran ilmu dari kunjungan ini diharapkan tidak hanya berakhir sebagai wacana belaka, melainkan dapat bertransformasi menjadi katalis bagi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia, dunia usaha, dan khususnya sektor konstruksi dalam negeri di masa yang akan datang.