Kolaborasi APPEKNAS dan Tabula Psychology Center menghadirkan perspektif psikologi mengenai tekanan kerja, pemulihan, dan keseimbangan hidup bagi pelaku industri konstruksi
Psikolog Tabula Psychology Center, Shanen Emily, M.Psi., Psikolog, mengajak para pelaku dunia kerja memahami bahwa produktivitas yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga oleh kemampuan menjaga batas, memulihkan energi, dan menjalankan peran di luar pekerjaan secara sehat.
BATAM, 23 September 2026. APPEKNAS bersama Tabula Psychology Center menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk “Dari Proyek ke Rumah: Menjaga Keseimbangan Hidup di Tengah Tuntutan Kerja” secara daring pada Rabu, 23 September 2026.
Webinar menghadirkan Shanen Emily, M.Psi., Psikolog, psikolog dari Tabula Psychology Center, sebagai narasumber. Kegiatan ini membahas pentingnya menjaga keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi, khususnya di tengah dinamika dunia kerja yang semakin cepat dan menuntut.
Topik tersebut relevan bagi industri konstruksi yang identik dengan target proyek, koordinasi lintas tim, perubahan kondisi lapangan, mobilitas, serta tanggung jawab yang dapat berlangsung melampaui jam kerja formal.
Melalui kolaborasi APPEKNAS dan Tabula Psychology Center, pembahasan mengenai dunia konstruksi tidak hanya dilihat dari aspek teknis dan produktivitas, tetapi juga dari sisi psikologis manusia yang menjalankan pekerjaan tersebut.
Ketika Pekerjaan Tidak Berhenti Saat Meninggalkan Proyek
Dalam banyak pekerjaan, termasuk konstruksi, batas antara kehidupan profesional dan pribadi tidak selalu mudah dipisahkan.
Seseorang mungkin sudah meninggalkan lokasi proyek, tetapi pikirannya masih tertuju pada pekerjaan yang belum selesai, target esok hari, persoalan dengan tim, atau keputusan yang harus segera diambil.
Situasi seperti ini menunjukkan bahwa pekerjaan dapat terbawa secara psikologis ke rumah, meskipun secara fisik seseorang sudah tidak berada di tempat kerja.
Dari perspektif psikologi, keseimbangan hidup bukan berarti membagi waktu secara sama rata antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Keseimbangan lebih berkaitan dengan apakah seseorang memiliki cukup ruang untuk menjalankan berbagai perannya tanpa salah satu peran terus-menerus menguras sumber daya yang dibutuhkan oleh peran lainnya.
Seorang pekerja dapat memiliki periode tertentu ketika pekerjaan membutuhkan perhatian lebih besar. Namun, apabila pola tersebut berlangsung terus-menerus tanpa kesempatan untuk pulih, tekanan dapat mulai memengaruhi kesehatan, hubungan sosial, konsentrasi, serta kualitas kehidupan sehari-hari.

Shanen Emily: Keseimbangan Bukan Berarti Mengurangi Profesionalisme
Melalui perspektif psikologi, Shanen Emily, M.Psi., Psikolog dari Tabula Psychology Center, mengangkat pentingnya membangun pola hidup yang memungkinkan individu tetap menjalankan tanggung jawab profesional tanpa mengabaikan kebutuhan personal.
Keseimbangan tidak identik dengan bekerja lebih sedikit atau menurunkan komitmen terhadap pekerjaan.
Justru, kemampuan mengenali kapasitas diri, mengatur prioritas, serta memiliki waktu pemulihan dapat membantu seseorang mempertahankan kualitas kinerja dalam jangka panjang.
Ketika seseorang terus berada dalam mode bekerja tanpa kesempatan untuk berhenti secara psikologis, tubuh dan pikiran tidak memperoleh cukup ruang untuk kembali ke kondisi yang lebih stabil.
Dalam jangka pendek, seseorang mungkin masih mampu mempertahankan produktivitas. Namun, apabila berlangsung terus-menerus, kualitas perhatian, pengambilan keputusan, pengendalian emosi, dan hubungan dengan orang lain dapat ikut terpengaruh.
Pentingnya Recovery Setelah Bekerja
Salah satu bagian penting dalam menjaga keseimbangan hidup adalah recovery atau proses pemulihan setelah bekerja.
Pemulihan bukan hanya tidur. Seseorang juga membutuhkan kesempatan untuk keluar sementara dari tuntutan pekerjaan secara mental.
Aktivitas sederhana seperti makan bersama keluarga, berolahraga, melakukan hobi, beribadah, beristirahat tanpa memeriksa pekerjaan, atau berbicara dengan orang terdekat dapat membantu menciptakan jarak dari tuntutan kerja.
Dalam psikologi kerja, kemampuan untuk tidak terus-menerus memikirkan pekerjaan setelah jam kerja sering disebut sebagai psychological detachment. Hal ini bukan berarti menjadi tidak peduli terhadap pekerjaan. Sebaliknya, jeda memungkinkan seseorang kembali bekerja dengan sumber daya psikologis yang lebih baik.
Bagi pekerja konstruksi, proses pemulihan menjadi semakin relevan karena pekerjaan dapat melibatkan tuntutan fisik, perhatian tinggi, koordinasi kompleks, dan kondisi lapangan yang berubah dengan cepat.
Dari Tekanan Proyek ke Kehidupan di Rumah
Tekanan pekerjaan tidak selalu berhenti di lingkungan kerja.
Kelelahan, rasa frustrasi, konflik dengan rekan kerja, atau kekhawatiran mengenai proyek dapat terbawa ke rumah. Seseorang dapat menjadi lebih mudah tersinggung, lebih banyak diam, kesulitan hadir secara penuh dalam percakapan, atau tetap sibuk dengan pekerjaan ketika sedang bersama keluarga.
Fenomena ketika pengalaman dari satu area kehidupan memengaruhi area lainnya dikenal sebagai spillover.
Spillover tidak selalu negatif. Kepuasan terhadap pekerjaan, rasa berhasil, atau dukungan dari rekan kerja juga dapat membawa emosi positif ke kehidupan pribadi.
Namun, apabila tekanan negatif terus berpindah dari pekerjaan ke rumah, hubungan dengan pasangan, anak, maupun anggota keluarga lain dapat ikut terdampak.
Karena itu, kemampuan melakukan transisi dari peran profesional ke peran pribadi menjadi penting. Setiap orang dapat memiliki cara yang berbeda, misalnya dengan membuat ritual sederhana setelah bekerja, membatasi komunikasi pekerjaan pada waktu tertentu, atau menyediakan beberapa menit untuk menenangkan diri sebelum berinteraksi dengan keluarga.
Batas yang Sehat Tidak Berarti Tidak Fleksibel
Di era komunikasi digital, batas pekerjaan semakin mudah menjadi kabur.
Pesan dapat datang kapan saja. Grup pekerjaan tetap aktif setelah jam kerja. Permintaan yang sebenarnya dapat menunggu hingga esok hari dapat terasa mendesak hanya karena diterima melalui telepon genggam.
Kondisi tersebut membuat individu perlu membangun boundary management, yaitu cara mengelola batas antara berbagai peran dalam kehidupan.
Batas tersebut tidak harus selalu kaku.
Pada periode tertentu, proyek memang dapat membutuhkan fleksibilitas lebih besar. Persoalannya bukan terletak pada satu atau dua hari ketika seseorang harus bekerja lebih lama, tetapi ketika kondisi darurat berubah menjadi pola kerja sehari-hari.
Kebiasaan sederhana seperti menentukan kapan perlu merespons pesan, membedakan persoalan mendesak dengan hal yang dapat menunggu, serta menyampaikan ekspektasi komunikasi kepada tim dapat membantu menjaga batas tanpa mengurangi profesionalisme.

Keseimbangan Hidup Bukan Hanya Tanggung Jawab Individu
Pembahasan mengenai keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi sering kali berfokus pada apa yang harus dilakukan oleh pekerja.
Padahal, lingkungan kerja juga memiliki peran besar.
Sulit bagi seseorang untuk menjaga keseimbangan apabila sistem kerja terus-menerus memberikan beban yang tidak realistis, komunikasi berlangsung tanpa batas waktu, atau budaya organisasi menganggap kelelahan sebagai ukuran dedikasi.
Karena itu, keseimbangan hidup perlu dilihat sebagai hasil interaksi antara individu dan lingkungan kerjanya.
Pemimpin dapat membantu melalui pembagian tugas yang lebih jelas, penentuan prioritas yang realistis, komunikasi mengenai urgensi, serta kebiasaan kerja yang tidak secara otomatis mengharapkan respons setiap saat.
Di sisi lain, pekerja juga perlu membangun kemampuan mengenali kapasitas diri, berkomunikasi ketika mengalami hambatan, serta mengelola waktu dan energi secara lebih sadar.
Unsur Psikologi dalam Dunia Konstruksi
Webinar ini kembali menunjukkan bahwa psikologi memiliki tempat yang relevan dalam dunia konstruksi.
Industri konstruksi membutuhkan kemampuan teknik, manajemen proyek, keselamatan kerja, perencanaan, dan pengendalian biaya. Namun, seluruh proses tersebut dijalankan oleh manusia.
Manusia memiliki kapasitas perhatian yang terbatas, membutuhkan pemulihan, dapat mengalami stres, memiliki tanggung jawab di luar pekerjaan, dan dapat menunjukkan performa yang berbeda ketika berada dalam kondisi kelelahan.
Karena itu, memahami manusia juga merupakan bagian dari memahami sistem kerja.
Kondisi psikologis dapat memengaruhi konsentrasi, komunikasi, ketelitian, pengambilan keputusan, kepemimpinan, hingga cara seseorang merespons situasi tidak terduga.
Dalam lingkungan konstruksi yang memiliki risiko dan tuntutan koordinasi tinggi, perhatian terhadap kondisi manusia tidak terpisah dari upaya menjaga kualitas dan keselamatan pekerjaan.

Kolaborasi Psikologi dan Industri Konstruksi
Kolaborasi antara APPEKNAS dan Tabula Psychology Center memperlihatkan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam membangun industri konstruksi.
Persoalan teknis membutuhkan penyelesaian teknis. Namun, persoalan mengenai kelelahan, stres, hubungan kerja, motivasi, konflik peran, dan keseimbangan hidup membutuhkan pemahaman mengenai perilaku manusia.
Perspektif psikologi membantu organisasi melihat bahwa produktivitas tidak hanya berkaitan dengan seberapa lama seseorang bekerja, tetapi juga dengan kualitas perhatian, kemampuan mengambil keputusan, kondisi emosional, serta kapasitas untuk memulihkan diri.
Dalam konteks tersebut, keseimbangan hidup bukan sekadar isu pribadi. Keseimbangan juga berkaitan dengan keberlanjutan sumber daya manusia di dalam organisasi.
Organisasi yang mampu menjaga kualitas manusianya memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan kinerja dalam jangka panjang.
Produktivitas yang Berkelanjutan Membutuhkan Ruang untuk Pulih
Webinar “Dari Proyek ke Rumah” menjadi pengingat bahwa profesionalisme tidak hanya tercermin dari kemampuan menyelesaikan pekerjaan.
Profesionalisme juga berkaitan dengan kemampuan menjaga diri agar tetap mampu bekerja secara konsisten, berpikir jernih, berhubungan dengan orang lain secara sehat, dan menjalankan berbagai peran kehidupan secara bertanggung jawab.
Bagi pekerja dan pelaku usaha konstruksi, pekerjaan memang dapat memiliki periode yang sangat menuntut. Namun, keberhasilan jangka panjang membutuhkan lebih dari kemampuan bertahan menghadapi tekanan.
Dibutuhkan pula kemampuan untuk mengenali kapan harus bekerja, kapan harus berhenti, dan kapan tubuh maupun pikiran membutuhkan kesempatan untuk pulih.
Melalui webinar nasional ini, APPEKNAS bersama Tabula Psychology Center dan Shanen Emily, M.Psi., Psikolog menghadirkan perspektif bahwa pembangunan industri yang berkelanjutan juga perlu memperhatikan manusia yang berada di balik setiap proyek.
Karena setelah meninggalkan proyek, setiap pekerja tetap memiliki kehidupan, hubungan, dan peran lain yang juga perlu dijaga.